Nurhan dan Ironi di Balik 500 Tahun Hari jadi Kota Banjarmasin ?

IMG-20260901-WA0008

SUARASWi.COM BANJARMASIN, 31 Agustus 2026, — Di tengah geliat pembangunan Kota Banjarmasin yang terus berkembang, masih ada warga yang menjalani kehidupan dalam kondisi serba terbatas.

Salah satunya Nurhan, pria kelahiran 1960 yang tinggal di Komplek Sederhana, RT 12/RW 001, Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Di usia yang tidak lagi muda, Nurhan kini harus menjalani hari-harinya dalam kondisi ekonomi yang sulit. 

Rumah yang ditempatinya pun disebut sudah tidak layak huni dan membutuhkan perhatian serta dukungan dari berbagai pihak.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Adv. HR. Fadillah, S.H., Ketua Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), yang ternyata merupakan teman Nurhan ketika masih bersekolah di SMP 2 Seroja Banjarmasin.

Fadillah mengatakan, dirinya mengetahui kondisi Nurhan setelah menerima informasi dari grup WhatsApp alumni sekolah.

Ia bersama sejumlah pihak kemudian mendatangi kediaman Nurhan untuk melihat langsung kondisi yang dialaminya.

“Nurhan ini teman masa sekolah SMP kita dulu. Kami sama-sama alumni SMP 2 Seroja Banjarmasin.

Kami datang ke rumah beliau setelah menerima informasi dari grup WhatsApp alumni bahwa kehidupan beliau saat ini seperti ini,” ujar Fadillah.

Menurut Fadillah, kondisi Nurhan menjadi perhatian karena terdapat kesenjangan antara data administrasi masa lalu dengan kondisi kehidupan yang terlihat saat ini.

“Ironinya, data Nurhan tercatat sebagai pekerja lepas di kelurahan, tetapi kenyataan di lapangan, kehidupan dan rumah beliau justru seperti ini. Ini yang perlu kita lihat bersama secara lebih utuh,”katanya.

Pernah Mengabdi di Kelurahan

Nurhan diketahui pernah bekerja di Kelurahan Teluk Dalam sebagai tenaga harian lepas sejak 2014 hingga 2018.

Saat masih bekerja, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp300 ribu per bulan sebagaimana informasi yang diterima dari pihak keluarga dan lingkungan sekitar.

Setelah tidak lagi bekerja sebagai tenaga pembantu di kelurahan, Nurhan kemudian dipercaya menjalankan tugas sebagai Ketua RW.

Dalam menjalankan perannya tersebut, Nurhan kerap membantu mendata warga yang membutuhkan bantuan, termasuk masyarakat kurang mampu dan warga dengan kondisi disabilitas.

Kondisi itu justru menghadirkan sisi lain yang cukup menyentuh. Di satu sisi, Nurhan ikut membantu mendata warga yang membutuhkan perhatian sosial. Di sisi lain, dirinya sendiri kini berada dalam kondisi yang membutuhkan kepedulian.

“Yang saya tahu, ketika masih aktif bekerja di Kelurahan Teluk Dalam, jiwa sosial Nurhan cukup tinggi. Dalam pembagian bantuan sosial dari kelurahan, dia berupaya memastikan bantuan sampai kepada warga,” tutur Fadillah.

Namun, seiring berjalannya waktu, komunikasi dengan Nurhan mulai berkurang setelah ia tidak lagi aktif bekerja di kelurahan pada 2018.

“Berjalannya waktu sampai 2018, kami tidak lagi memonitor bagaimana kehidupan beliau setelah tidak aktif di kelurahan. Ternyata ketika kami datang sekarang, kondisinya cukup memprihatinkan,” ujarnya.

Data Bantuan Perlu Dilihat Kembali

Fadillah juga menyampaikan bahwa Nurhan sebelumnya pernah diusulkan masuk dalam program bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH).

Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya, usulan tersebut tidak berlanjut karena pada saat pendataan status Nurhan tercatat sebagai pekerja tetap di kelurahan.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu dilihat kembali secara administratif maupun faktual agar data penerima bantuan benar-benar menggambarkan keadaan masyarakat di lapangan.

“Ini namanya miskomunikasi. Sangat miris, sekitar seratus meter dari Kelurahan Teluk Dalam masih ada kehidupan dan rumah yang kondisinya seperti ini,”kata Fadillah.

Ia menilai, pembaruan data menjadi penting karena kondisi ekonomi seseorang dapat berubah seiring perjalanan waktu.

“Data itu penting, tetapi kondisi riil masyarakat juga harus menjadi perhatian.

Jangan sampai data lama membuat warga yang hari ini benar-benar membutuhkan justru tidak terjangkau bantuan,” tuturnya.

Alumni SMP 2 Seroja Mulai Bergerak

Melihat kondisi sahabat lamanya tersebut, Fadillah mengaku langsung memberikan bantuan awal berupa kebutuhan sembako.

“Alhamdulillah, pagi tadi saya langsung support di awal dengan membantu keperluan sembako untuk saudara kita Nurhan. Mudah-mudahan ini bisa sedikit meringankan kebutuhan beliau,”katanya.

Ia juga mengajak rekan-rekan alumni SMP 2 Seroja Banjarmasin untuk bersama-sama memberikan dukungan sesuai kemampuan masing-masing.

“Saya berharap rekan-rekan bisa ikut support dan membantu. Insyaallah donasi dari teman-teman alumni SMP 2 Seroja juga menyusul, karena banyak teman kita sekarang berdomisili di kota atau provinsi lain,”ujar Fadillah.

Menurut dia, bantuan tidak harus selalu berbentuk uang. Kebutuhan sehari-hari maupun bantuan untuk memperbaiki kondisi tempat tinggal juga dapat menjadi bentuk kepedulian.

“Apa yang sedang diperlukan saudara Nurhan bisa diberikan oleh teman-teman. Yang terpenting adalah kepedulian dan keikhlasan kita untuk membantu,”katanya.

Fadillah juga menyebut kondisi fisik Nurhan saat ini terlihat tidak lagi sekuat ketika masih aktif bekerja.

“Saat ini Nurhan juga terlihat sakit-sakitan dan kondisi fisiknya sudah menurun. Karena itu, perhatian terhadap beliau tentu semakin diperlukan,”ucapnya.

Berharap Pemerintah Turun Tangan

Selain menggalang kepedulian dari sesama alumni, Fadillah berharap kondisi Nurhan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah melalui instansi yang memiliki kewenangan di bidang sosial dan perumahan.

Ia berharap ada verifikasi serta pembaruan data terhadap kondisi Nurhan sehingga berbagai program bantuan yang sesuai dapat dipertimbangkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

“Saya sangat berharap kepada pemangku yang berkompeten di bidangnya, seperti Dinas Sosial, misalnya, agar kondisi saudara Nurhan dapat diperhatikan. Kalau memang memenuhi persyaratan, mudah-mudahan bisa dipertimbangkan untuk mendapatkan bantuan sosial ataupun program bedah rumah,”katanya.

Menurut Fadillah, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai sebuah rumah yang membutuhkan perbaikan, tetapi menyangkut kepedulian terhadap warga yang pernah mengabdikan dirinya untuk masyarakat.

“Yang sangat miris, ada rumah dengan kondisi seperti itu di tengah Kota Banjarmasin yang sudah boleh dikatakan sebagai kota besar.

Jaraknya pun hanya sekitar seratus meter dari kantor kelurahan. Artinya, masih ada warga kita yang sangat membutuhkan perhatian,” ujarnya.

Ia menegaskan, perhatian terhadap Nurhan bukan dimaksudkan untuk menyalahkan pihak tertentu.

Sebaliknya, persoalan tersebut diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat pendataan dan memastikan warga yang membutuhkan tidak terlewatkan.

“Ini bukan soal mencari siapa yang salah. Kita ingin mencari solusi. Mudah-mudahan setelah kondisi ini diketahui, ada langkah bersama yang bisa dilakukan agar kehidupan Nurhan menjadi lebih baik,” tutur Fadillah.

Sementara itu, Plt. Lurah Teluk Dalam, Rahayu Maulida, S.AP., telah dihubungi melalui WhatsApp untuk dimintai tanggapan mengenai kondisi Nurhan dan kemungkinan langkah yang dapat dilakukan pemerintah kelurahan.

“Terimakasih informasinya, saat ini kami sedang melakukan koordinasi dengan kawan kawan di Kelurahan mengenai hal tersebut, dan kami akan informasikan lagi bangaimana langkah penanganan selanjutnya,” ujarnya melalui pesan singkat Whatshapp.

Kisah Nurhan menjadi pengingat bahwa di balik perkembangan sebuah kota, masih ada warga yang membutuhkan perhatian.

Di usia senjanya, harapan sederhana Nurhan bukanlah sesuatu yang berlebihan: tempat tinggal yang lebih layak, kebutuhan dasar yang tercukupi, serta perhatian dari lingkungan dan pemerintah.

Bagi Fadillah, kepedulian terhadap Nurhan juga menjadi bentuk penghormatan kepada seorang kawan lama yang dahulu ikut membantu masyarakat.

“Dulu dia membantu mendata warga yang membutuhkan bantuan. 

Hari ini, mungkin giliran kita yang mendata, melihat dan membantu Nurhan.

Semoga kepedulian kecil dari kita bisa menjadi jalan bagi kehidupan beliau yang lebih baik,”pungkasnya.

EDITOR : MEGA